Jom Kita Kongsi Ilmu :)

Sunday, August 12, 2012

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Lailatul Qadar?



-- Lailatul Qadr --

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Lailatul Qadar?
Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi isteri-istrrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau menjauhi para istri beliau dari berjima’, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”


Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, maka ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”.[2] Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, boleh juga dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an.[3] Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[4]

Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Lailatul Qadar?
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka boleh mendapatkan bahagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Ya, mereka tetap boleh mendapatkan bahagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bahagian malam tersebut.”[5]

Dari riwayat ini menunjukkan bahawa wanita haidh, nifas dan musafir tetap boleh mendapatkan bahagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika keadaan seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah:
 membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf,[6] berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya,  memperbanyak istighfar, dan memperbanyak do’a.[7]

Panduan I’tikaf Ramadhan
I’tikaf secara bahasa bererti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf bererti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat.[8]

Dalil Disyari’atkannya I’tikaf
Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”[9]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.[10] Waktu i’tikaf yang lebih afdhal adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”[11]

I’tikaf Harus Dilakukan di Masjid
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga kerana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga isteri-isteri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid.”[12] Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid.[13]

I’tikaf Boleh Dilakukan di Masjid Mana Saja
Menurut majoriti ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang ertinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.[14] Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksudkan. Apakah masjid biasa di mana dijalankan shalat jama’ah lima waktu[15] ataukah masjid jaami’ yang diadakan juga shalat jum’at di sana?

Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan shalat lima waktu di sana) karena keumuman firman Allah Ta’ala (yang ertinya), “sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187). Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga shalat Jum’at.[16] Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan shalat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Wanita Boleh Beri’tikaf
Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf.[17] Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi lelaki) sehingga wanita yang beri’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.[18]

Lama Waktu Berdiam di Masjid
Para ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak ada batasan waktu maksima. Namun mereka berselisih pendapat berapa waktu minima untuk dikatakan sudah beri’tikaf. [19]

Yang tepat dalam masalah ini, i’tikaf tidak dipersyaratkan untuk puasa, hanya disunnahkan[20]. Menurut majoriti ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minima, ertinya boleh cuma sesaat di malam atau di siang hari.[21] Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minima dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak[22] adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”[23] Dari sini, meskipun i’tikafnya cuma setengah jam saja, maka itu sudah disebut melakukan i’tikaf.

Yang Membatalkan I’tikaf
(1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada keperluan yang mendesak; (2) Jima’ (bersetubuh) dengan isteri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)[24].

Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf
(1) Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak boleh dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti menghantar orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain. (3) Isteri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Mulai Masuk dan Keluar Masjid
Jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk boleh beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”[25] Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan dan keluar pada saat malam ‘ied. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.

Adab I’tikaf
Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.[26]

_____________
Rujukan:

[1] HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174.
[2] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 329.
[3] ‘Aunul Ma’bud, 4/176.
[4] HR. Bukhari no. 1901.
[5] Latho-if Al Ma’arif, hal. 341
[6] Dalam at Tamhid (17/397), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya.”
[7] Lihat Fatwa Al Islam Su-al wa Jawab no. 26753.
[8] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1699.
[9] Al Mughni, 4/456.
[10] HR. Bukhari no. 2044.
[11] HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172.
[12] Fathul Bari, 4/271.
[13] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13775.
[14] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151.
[15] Walaupun namanya beraneka ragam di tempat kita, baik dengan sebutan masjid, musholla, langgar, maka itu dinamakan masjid menurut istilah para ulama selama diadakan shalat jama’ah lima waktu di sana untuk kaum muslimin. Ini berarti jika itu musholla rumahan yang bukan tempat ditegakkan shalat lima waktu bagi kaum muslimin lainnya, maka ini tidak masuk dalam istilah masjid. Sedangkan dinamakan masjid Jaami’ jika ditegakkan shalat Jum’at di sana. Lihat penjelasan tentang masjid di Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13754.
[16] Lihat Al Mughni, 4/462.
[17] HR. Bukhari no. 2041.
[18] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152.
[19] Lihat Fathul Bari, 4/272.
[20] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/153.
[21] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/154.
[22] I’tikaf mutlak, maksudnya adalah i’tikaf tanpa disebutkan syarat berapa lama.
[23] Al Inshof, 6/17.
[24] Fathul Bari, 4/272.
[25] HR. Bukhari no. 2041.
[26] Lihat pembahasan I’tikaf di Shahih Fiqh Sunnah, 2/150-158.
Reactions:

0 Pandangan yang Bernas !!: